SEARCH TYPE COMPUTER HERE

Your Ad Here



Jumat, 20 Februari 2009

Teknologi Proyektor yang Makin Memudahkan dan Memurahkan

Teknologi Proyektor yang Makin Memudahkan dan Memurahkan

Teknologi tak pernah diam. Normalnya sih selalu berubah ke tingkatan yang lebih maju. Yang hebat, kecanggihan teknologi terkadang bisa membuat harga justru semakin terjangkau tanpa mengorbankan sisi fasilitas. Tak terkecuali teknologi proyektor.

Pengalaman yang kaya efek visual dan audio umumnya jauh lebih berkesan daripada yang mementingkan hanya visual atau audio semata. Ini berlaku dalam berbagai proses penyampaian informasi, seperti proses belajar mengajar di dunia pendidikan atau dalam presentasi bisnis.

Perangkat multimedia di sekolah dapat membuat suasana belajar jadi lebih menyenangkan, peserta didik pun jadi lebih mudah dan lebih banyak menyerap informasi. Tak heran jika banyak sekolah, institusi pendidikan yang kini rajin melengkapi fasilitas belajarnya dengan perangkat multimedia, seperti komputer, notebook, proyektor, layar LCD, dan sebagainya.

Masih ingat masa-masa sekolah belasan bahkan puluhan tahun lalu? Ketika bapak dan ibu guru setia membekal kapur tulis dan penghapus, yang membuat tangan mereka memutih. Partikel halus dari kapur dituduh sebagai dalang terganggunya kesehatan guru dan murid sehingga lembaga pendidikan lantas beralih ke papan tulis putih (whiteboard) dan marker. Namun yang belakangan ini pun masih disebut biang penyakit sesak napas.

Untunglah kemajuan teknologi informasi yang pesat ikut membawa angin segar di dunia pendidikan, berupa teknologi multimedia. Kini ruang kelas tidak lagi memajang whiteboard – apalagi blackboard – tapi diisi perangkat-perangkat berbasis teknologi untuk kebutuhan presentasi layaknya di kantor-kantor, seperti proyektor, interactive whiteboard, layar LCD, dan notebook/PC.

Mekarnya peluang di dunia pendidikan rupanya tak luput dari tangkapan radar para vendor TI, tak terkecuali Epson. Apalagi santer terdengar berita gembira tentang anggaran pendidikan nasional 2009 yang bakal naik hingga 20%, atau jika dirupiahkan mencapai Rp 224 triliun.

Epson pastinya menaruh harapan besar bahwa dunia pendidikan akan menambah daftar belanja perangkat belajar/mengajar berbasis teknologi, utamanya proyektor. Antara tahun 2006-2007 saja, menurut data Ditjen Pendidikan Dasar dan Menengah, ada 155963 sekolah negeri dan swasta, mulai dari TK hingga SMA/SMK di seluruh Indonesia. Sementara data Ditjen Pendidikan Tinggi menyebutkan jumlah perguruan tinggi negeri 82 institusi dan 2800 institusi swasta.

“Belum lagi pemilu di 2009 nanti,” cetus M. Husni Nurdin (Senior GM, Epson Indonesia), saat mengungkapkan rasa optimisnya terhadap pasar proyektor. Pangsa pasar proyektor diperkirakan bisa terangkat hingga 5% tahun depan. Ini tentu hal yang menggembirakan karena pasar printer – produk andalan Epson lainnya – tengah dilanda krisis. Husni meramalkan pasar printer bakal menciut sekitar 30%.

Untuk proyektor, Epson mengklaim sudah menguasai 20% pangsa pasar di Indonesia. Empat puluh ribu unit proyektor ditargetkan Epson terjual di tanah air hingga akhir 2008 ini.

3LCD Eliminasi Efek Pelangi

Kebutuhan proyektor di dunia pendidikan agaknya takkan jauh-jauh dari kebutuhan pengguna rumahan, seperti kemudahan pakai, kualitas, dan harga yang terjangkau. Sementara pengguna bisnis mensyaratkan sifat multifungsi dan portabilitas.

Epson berharap bisa memenuhi kemauan pengguna di sektor bisnis, pendidikan, maupun rumahan lewat 3 proyektor terbaru – EB-X6, S6, dan W6. Teknologi 3LCD, E-Torl, dan fitur Color Light Output ada di belakang proyektor Epson tersebut sebagai senjata andalan menusuk lebih dalam pasar proyektor.

Gambar yang jernih, seindah warna aslinya, detail yang jelas, atau video yang tampil seperti aslinya tentu akan lebih menarik untuk dinikmati. Teknologi 3LCD memungkinkan hal-hal tersebut, sekaligus mengeliminasi efek pelangi (rainbow effect) yang kerap dikeluhkan para pengguna proyektor LCD biasa.

Sama-sama menempelkan kata “LCD”, teknologi 3LCD bekerja dengan cara yang agak berbeda dengan LCD. Sesuai namanya, ada 3 chip pada teknologi 3LCD. Begini cara kerjanya. Sinar putih diproyeksikan sumber cahaya ke cermin-cermin dichroic yang bertugas memecah sinar menjadi warna-warna dasar, yakni merah, hijau, dan biru. Ketiga warna ini lantas diproses oleh 3 chip LCD, sebelum dilewatkan melalui prisma dichroic dan lensa. Bedanya dengan LCD? Hanya ada satu chip di proyektor LCD dan rotating color wheel yang diputar dengan sangat cepat. Yang terakhir ini menyebabkan terjadinya color break-up (pecah warna) dan berbuntut pada rainbow effect.

Hal lain adalah debu. Proyektor – seperti juga berbagai perangkat elektronik lainnya – bagaikan magnet bagi debu. Arus listrik dan panas adalah kombinasi yang pas untuk memancing datangnya debu dan minyak. Tumpukan debu ini akan menjadi masalah serius ketika komponen utama mulai dihinggapinya. Untungnya 3LCD proyektor datang dengan filter udara yang mudah diganti-ganti (replaceable). Ketika permukaan filter udara – yang bertugas memerangkap kotoran – sudah kotor, pengguna bisa segera menggantinya tanpa harus repot bongkar-bongkar proyektor.

E-Torl Reduksi Dimensi, Genjot Efisiensi

Membekal fitur 3LCD saja tidak cukup untuk menjadi yang terdepan di bisnis proyektor. Senjata andalan lain yang disiapkan Epson adalah E-Torl (Epson Twin Optimized Reflection Lamp). Selain ukuran fisik yang lebih kecil dari ukuran lampu proyektor standar, E-Torl pun diklaim bekerja lebih dingin, efisien, dan menghasilkan gambar yang lebih cerah.

Intinya, E-Torl dapat mengoptimalkan penggunaan cahaya yang dipancarkan sumber cahaya. Inilah hal utama dalam proses manufaktur proyektor. Jika banyak cahaya yang terbuang, gambar hasil proyeksi akan tampak buram. Lantas apa solusi untuk menambah kecerahan gambar? Menggeber daya/ Watt dari proyektor agar output lumen-nya meningkat? Tidak juga. E-Torl hanya memastikan cahaya terpakai secara optimal, alias tidak ada yang terbuang sebagai panas belaka atau terserap oleh lingkungan di sekitar proyektor.

Salah satunya adalah dengan mengganti reflektor yang semula berbentuk parabola menjadi elips, dan menambah twin-reflector unit agar bisa memproyeksikan lebih banyak lumens per watt, karena cahaya tertangkap dan tersalurkan sempurna. Hasilnya, efisiensi proyektor dengan E-Torl meningkat 20% dibanding sistem lampu standar. Dengan input yang sama, E-Torl bisa menghasilkan output sebesar 170 watt bila dibandingkan output sistem lampu standar yang hanya 136 watt saja. Gambar pun lebih cerah dan nilai kontrasnya lebih tinggi.

E-Torl juga berjasa meringkaskan dimensi proyektor Epson. Selain karena ukuran lampunya yang lebih kecil dari lampu standar, optical engine-nya pun berhasil dipangkas Epson sampai 55mm. Alhasil dimensi yang lebih mungil, bobot lebih enteng, dan penggunaan di berbagai kondisi cahaya mudah diwujudkan. Belum lagi daya tahun lampu E-Torl yang diklaim bisa mencapai 4000 jam.

Konten high definition yang mulai “harum” belakangan ini menjadikan kualitas output sebagai hal penting dalam bisnis proyektor. Kalau selama ini pengguna tak punya petunjuk sama sekali tentang kualitas proyektor yang dipakainya, sekarang ada Color Light Output. Fasilitas ini adalah cara sederhana, mudah, tapi akurat untuk mengukur kualitas gambar yang dihasilkan sebuah proyektor. Menurut TFC Associates (sebuah perusahaan riset khusus proyektor), salah satu faktor penting dalam membeli proyektor adalah kualitas gambar.

Pilihan Produk dengan Harga Terjangkau

Harga terjangkau, begitu benang merah yang kami simpulkan dari tiga proyektor entry level keluaran terbaru Epson: EB-S6, EB-X6, dan EB-W6. Meski begitu, produk yang menyasar pengguna di sektor bisnis, pendidikan, dan rumahan ini dibekali serangkaian fasilitas yang cukup memadai serta pilihan resolusi SVGA (S6), XGA (X6), dan WXGA (W6).

Istilah “plug & project” sengaja ditempelkan Epson untuk menggambarkan betapa mudahnya pengoperasian ke-3 proyektor ini . Selain “plug” di PC, pengguna bisa melakukan presentasi tanpa PC/notebook (PC-less presentation) berkat ketersediaan port USB dan slot SD card.

Fasilitas lain yang akan memudahkan adalah AV Mute Sliding. Pengguna tinggal menggeser tutup lensa, lalu lampu proyektor akan diredupkan dan kipas berputar lebih pelan. Fasilitas ini berguna jika presenter akan mengalihkan perhatian pemirsa dari isi presentasi, misalnya akan menulis di whiteboard atau berinteraksi dengan pemirsa.

Selesai presentasi, pengguna bisa langsung membenahi proyektor, tanpa harus menunggu proses cooling down. Cukup tekan tombol power dan cabut kabel power. Soalnya ke-3 proyektor ini dibekali kapasitor yang akan memutar kipas meskipun kabel daya sudah dicabut.

Berbicara soal kualitas gambar, ada teknologi 3LCD dan E-Torl di belakang proyektor Epson. Rasio kontrasnya 2000:1, dengan tingkat kecerahan 2200 ANSI Lumens (EB-S6 dan X6) dan 2000 ANSI Lumens (EB-W6).

Tentang portabilitas, ketiga proyektor ini boleh dimasukkan kelas menengah dengan bobot 2,7-2,8kg dan dimensi 245x327x92mm (tidak termasuk kaki penyangga). Masih lumayan ringan untuk dipindah dari satu ruangan ke ruangan lain. Harganya pun termasuk “ringan” di kantong. EB-S6 dibandrol pada harga US$ 639, EB-X6 US$ 829, dan EB-W6 US$ 999.

EB-W6 sedikit lebih mahal – tapi masih lebih murah daripada proyektor home theater – karena ada kemampuan high-definition yang dibekalkan Epson di sana. Tengok saja resolusi WXGA-nya yang ideal untuk laptop layar lebar dan konten DVD, serta port HDMI yang disertakan. Cocok untuk penikmat home theater yang masih mempertimbangkan budget.

(Liana Threestayanti)

Merakit File Server Murah dengan Si Setan Merah




Jika Anda tidak mau repot dan anggaran cukup longgar, maka NAS (Network Attached Storage) merupakan salah satu solusi. Namun, jika Anda ingin memanfaatkan komputer lama dan harddisk yang tidak terpakai, FreeNAS yang merupakan varian sistem operasi FreeBSD dapat kita dayagunakan. File FreeNAS dapat Anda unduh di alamat www.freenas.org dalam bentuk file ISO berukuran 46,6 Mega Byte.

Uniknya, FreeNAS dapat kita jalankan sebagai Live-CD, alias tidak perlu diinstal ke dalam harddisk. Jika motherboard PC yang hendak digunakan mendukung booting dari USB Flashdisk, FreeNAS juga siap diinstal dalam media populer ini. Jika Anda seorang pehobi fotografi dan memiliki media simpan jenis CF Card. Inilah langkah-langkah konfigurasinya:

Membakar File ISO ke dalam CD

Secara standar FreeNAS didistribusikan dalam bentuk file ISO, untuk dibakar ke dalam CD. Jangan lupa, kita tidak membakar file ISO FreeNAS sebagai data, namun sebagai ISO.

Mengubah Prioritas Booting PC

Langkah berikut ini perlu kita lakukan karena komputer belum akan kita boot dari harddisk, melainkan dari CD berisi file freeNAS yang sebelumnya telah kita siapkan. Sesaat setelah menghidupkan PC, tekan-tekanlah tombol Delete untuk masuk ke konfigurasi BIOS (Basic Input-Output System). Tombol ini dapat berbeda-beda, tergantung pada produsen motherboard PC Anda. Kami sarankan Anda melihat buku manual motherboard PC. Biasanya, konfigurasi prioritas booting ada di bagian Anvanced Settings atau tab Boot. Masuklah ke bagian itu, lalu ubahlah prioritas booting dari CD-ROM berada di urutan pertama. Setelah itu, simpan konfigurasi ini dengan masuk ke bagian Exit dan pilih Exit and Save Settings. Segera masukkan CD berisi FreeNAS ke dalam CD-ROM, maka PC akan segera booting dari CD-ROM.

Konfigurasi Awal

Konfigurasi awal berisi langkah-langkah pendefinisian jaringan lokal yang akan menggunakan layanan FreeNAS.

1. Langkah pertama, kita akan mengaktifkan kartu jaringan (ethernet) atau LAN card. Ketikkan angka 1, lalu tekan Enter.

2. Secara otomatis, FreeNAS akan mendaftar kartu jaringan yang ada dalam komputer dengan label em. Pilih salah satu yang hendak Anda gunakan untuk media komunikasi jaringan FreeNAS. Arahkan ke pilihan OK, lalu tekan Enter. Kartu jaringan yang telah aktif akan memiliki label Up.

3. Selanjutnya, Anda diberi tawaran menggunakan server DHCP (Dynamic Host Configuration Server) yang mempermudah pengelolaan dan pengalamatan nomor IP dalam jaringan lokal FreeNAS. Jika Anda telah menggunakan server DNS untuk pengalamatan nomor IP, arahkan saja ke pilihan No. Jika tidak ada server DNS dalam jaringan, pilih Yes, lalu tekan Enter.

4. Pilihan ini tidak akan tampil jika sebelumnya Anda memilih menggunakan DHCP server. Alamat IP yang digunakan oleh komputer server FreeNAS dan komputer-komputer pengakses server FreeNAS akan ditentukan oleh DHCP server. Isikan nomor IP yang akan digunakan oleh komputer server FreeNAS. Pilihlah nomor IP yang belum digunakan di jaringan. Arahkan pilihan ke OK, lalu tekan Enter.

5. Isikan subnet mask untuk nomor IP yang baru saja kita berikan. Dalam bahasan ini, kami menggunakan nomor IP kelas A, maka subnet mask dalam bentuk biner adalah 24 bit karena tiga oktet subnet di bagian depan diselubungi dengan angka biner 1 (255.255.255.0). Jika Anda menggunakan nomor IP kelas B, misalnya 192.168.X.X, maka subnet mask-nya dalam bentuk biner adalah 16 bit karena dua oktet subnet di bagian depan diselubungi dengan angka biner 1 (255.255.0.0). Arahkan pilihan ke OK, lalu tekan Enter.

6. Jika jaringan lokal terhubung ke luar (internet) melalui komputer gateway, isikan nomor IP komputer yang menjadi gateway. Arahkan pilihan ke OK, lalu tekan Enter.

7. Jika jaringan lokal menggunakan server DNS untuk memanajemen pengalamatan nomor IP, isikan nomor IP-nya. Pilihan ini tidak tampil jika sebelumnya Anda memilih menggunakan DHCP server. Arahkan pilihan ke OK, lalu tekan Enter.

8. Akan tampil tawaran penerjemahan nomor IP yang digunakan oleh server FreeNAS ke bentuk IP versi 6. Arahkan saja pilihan ke OK, lalu tekan Enter.

9. Sesaat kemudian, konfigurasi nomor IP telah selesai. Jika Anda memilih menggunakan DHCP server, nomor IP yang digunakan oleh server freeNAS juga akan ditampilkan. Ingat-ingat nomor IP tersebut, karena akan kita gunakan untuk mengakses antar muka konfigurasi lanjutan lewat browser web. Tekan Enter untuk melakukan booting ulang FreeNAS.

10. Jika sudah tampil screen FreeNAS, tekan saja Enter.

11. Konfigurasi awal telah selesai.

Box 1: Sekilas Tentang RAID

Sistem RAID (Redundant Array of Inexpensive Disks) merupakan mekanisme perangkaian beberapa harddisk untuk meningkatkan kinerjanya, baik kecepatan akses data, kecepatan penulisan data serta kecepatan pembacaan data.

Ada dua sistem perangkaian utama dalam RAID, yaitu stripping dan mirroring. Sistem pertama menyimpan pecahan paket data secara bergantian antara rangkaian harddisk (array) satu dan yang lain. Sedangkan sistem mirroring menyimpan data yang sama pada masing-masing rangkaian harddisk. Sistem stripping efektif untuk meningkatkan kecepatan akses data dan tulis data, sementara itu sistem mirroring cocok untuk backup data.

Sebenarnya ada satu lagi sistem perangkaian harddisk dalam RAID, yaitu JBOD (Just a Bunch Of Disks). Rangkaian-rangkaian harddisk kapasitas simpannya digabungkan dan dianggap sebagai satu harddisk. Sistem ini cocok untuk keperluan kapasitas simpan data yang ekstra lapang.

Konfigurasi Lanjutan

Langkah konfigurasi lanjutan ini digunakan untuk menata rangkaian RAID harddisk dan mengatur aturan bagi-pakainya. Konfigurasi lanjutan ini dapat dilakukan di komputer mana saja dalam jaringan FreeNAS.

1. Bukalah browser web, lalu isikan nomor IP yang digunakan oleh komputer server FreeNAS dan tekan Enter. Segera tampil antar muka konfigurasi lanjutan FreeNAS.

2. Langkah pertama, kita definisikan harddisk yang akan dirangkai dalam RAID. Klik sub menu Management di bawah menu Disks. Pada tab Management, tekan ikon tanda tambah (plus).

3. Tekan tombol dropdown pada bagian Disks, lalu arahkan ke harddisk pertama yang dikenali dengan label ad0. Selanjutnya, tekan tombol Add.

4. Pada tab Management, tekan lagi ikon tanda tambah (plus). Tekan tombol dropdown pada bagian Disks, lalu arahkan ke harddisk kedua yang dikenali dengan label ad2. Selanjutnya, tekan tombol Add.

5. Setelah semua harddisk yang akan dirangkai dalam RAID didefinisikan, terapkan konfigurasi dengan menekan tombol Apply Changes.

6. Kini, kita akan memformat harddisk-harddisk yang akan kita rangkai dalam RAID. Klik sub menu Format di bawah menu Disks. Pada bagian Disk, tekan tombol dropdown dan arahkan ke harddisk pertama (ad0). Pada bagian File System, tekan tombol dropdown dan pilih Software RAID. Klik tombol Format.

7. Kembali ke bagian Disk, tekan tombol dropdown dan arahkan ke harddisk kedua (ad2). Pada bagian File System, tekan tombol dropdown dan pilih Software RAID. Klik tombol Format.

8. Setelah harddisk-harddisk yang akan dirangkai terformat, kini kita rangkai dalam RAID. Caranya, klik sub menu Software RAID di bawah menu Disks. Tentukan jenis RAID yang diinginkan. Dalam praktek pertama, kami coba memilih RAID1 dengan klik tab RAID1. Klik ikon tanda tambah (plus).

9. Berikan sembarang nama pada isian RAID Name. Beri tanda check (centang) pada bagian Members of This Volume untuk memilih harddisk yang akan dirangkai dalam RAID. Demikian pula, aktifkan pilihan Create and Initialize RAID. Jika sudah selesai, klik tombol Add.

10. Jangan lupa untuk menerapkan konfigurasi RAID dengan menekan tombol Apply Changes.

11. Sekarang, saatnya memformat rangkaian RAID. Klik sub menu Format di bawah menu Disks. Pada bagian Disks, arahkan ke rangkaian RAID yang baru saja kita buat. Pada bagian File System, pilih UFS (GPT and Soft Updates). Berikan sembarang isian pada bagian Volume label dan aktifkan (beri tanda check) pada pilihan Don't Erase MBR. Lalu, tekan tombol Format Disk.

12. Jangan lupa untuk menerapkan konfigurasi dengan menekan tombol Apply Changes.

13. Kita perlu mendefinisikan mount point RAID agar dapat diakses oleh anggota jaringan (client). Untuk itu, klik sub menu Mount Point di bawah menu Disks. Untuk menambahkan mount point, klik ikon tanda plus (tambah).

14. Pada bagian Type, arahkan ke pilihan Disk. Di bagian Disk, arahkan ke rangkaian RAID yang baru saja kita buat. Pada bagian Partition, tekan tombol dropdown dan pilih EFI GPT. Tekan tombol dropdown di bagian File System, pilih UFS. Berikan sembarang nama pada isian Name dan Description. Jika sudah selesai, klik tombol Add.

15. Jangan lupa menerapkan konfigurasi mount point RAID yang telah kita tentukan dengan klik tombol Apply Changes.

16. Langkah terakhir, kita atur layanan Samba (CIFS/SMB) yang merupakan layanan file sharing antara komputer keluarga UNIX (termasuk FreeBSD dan Linux) dengan komputer Windows. Tekan sub menu CIFS/SMB di bawah menu Services. Buka tab Settings. Pada bagian Authentication, jika Anda ingin semua orang dapat mengakses server FreeNAS tanpa password, pilih Anonymous. Isikan nama pengenal server FreeNAS di jaringan pada bagian NetBIOS name, sehingga nanti dapat dikenali oleh komputer Windows. Tentukan workgroup di mana server FreeNAS akan bergabung. Isikan pula sembarang label pada bagian Description. Jangan tekan tombol Save and Restart dahulu.

17. Buka dulu tab Shares. Bagian ini berfungsi untuk membentuk folder-folder yang akan dibagi-pakai. Tentu saja, file-file akan lebih terorganisir jika dipilah dalam folder-flder yang lebih khusus. Pada bagian Name, isi dengan nama folder yang diinginkan. Berikan sembarang isian di bagian Comment. Tekan tombol bertanda tiga titik di bagian Path, lalu arahkan ke mount point RAID yang sudah kita bentuk. Jangan beri tanda check (centang) di bagian Read Only, kecuali Anda ingin anggota jaringan hanya dapat membaca dan menyalin file dalam server FreeNAS. Beri tanda check (centang) pada bagian Browseable agar folder ini dapat dilihat oleh anggota jaringan. Jika sudah selesai, klik tombol Add.

18. Anda dapat menambahkan folder sharing dengan klik ikon tanda tambah (plus) dan lakukan langkah 17. Jangan lupa menerapkan konfigurasi sharing folder yang telah kita tentukan dengan klik tombol Apply Changes.

19. Buka kembali tab Settings, tekan tombol Save and Restart.

Mengubah Jenis RAID

Bagaimana jika Anda ingin mengubah jenis RAID? Langkah pertama adalah backup dahulu semua file dalam RAID yang lebih dulu ada, karena pengubahan RAID akan menghancurkan semua data. Setelah itu, berikut ini langkah-langkahnya:

1. Klik sub menu Mount Point di bawah menu Disk. Buka tab Management. Pilih mount point, lalu hapus dengan klik ikon huruf e (Erase).

2. Terapkan penghapusan mount point dengan klik tombol Apply Changes.

3. Klik sub menu Software RAID di bawah menu Disk. Pilih RAID, lalu hapus dengan klik ikon huruf e (Erase).

4. Kembali ke sub menu Software RAID, klik tab jenis RAID yang Anda inginkan. Sebagai contoh dalam praktek ini adalah JBOD. Lalu tekan ikon tanda tambah (plus).

5. Pada bagian RAID Name, isi dengan identitas RAID yang baru. Beri tanda check (centang) pada hardisk yang akan dirangkai dalam RAID baru. Aktifkan juga pilihan Create and Initialize RAID. Setelah selesai, klik tombol Add.

6. Terapkan konfigurasi RAID yang baru dengan klik tombol Apply Changes.

7. Langkah selanjutnya, ikuti langkah 11-19, bab Konfigurasi Lanjutan.

Akses Server FreeNAS dari Komputer Anggota Jaringan (Client)

Nah, sekarang server FreeNAS kita sudah jadi dan telah aktif. Saatnya kita berpindah pada komputer anggota jaringan dan mencoba mencemplungkan atau menyalin file dari server made-in my self, alias bikinan sendiri ini.

1. Buka kotak My Network Places atau klik tombol Start > Run. Isikan nomor IP server FreeNAS, diawali dua tanda backslash (--), misalnya: --10.15.38.235, lalu tekan tombol Enter.

2. Cobalah salin (copy) file dari harddisk komputer client dan tambahkan (paste) ke dalam folder server FreeNAS .

Box 2: Menginstal FreeNAS dalam Flashdisk atau Harddisk

Selain dijalankan sebagai Live_CD, FreeNAS juga dapat diinstal ke dalam USB Flashdisk atau Harddisk. Jika Anda hendak menginstalnya ke dalam harddisk, maka harddisk yang digunakan untuk menginstal FreeNAS tidak dapat digunakan untuk menyimpan data. Dengan kata lain, tidak dapat dirangkai dalam RAID. Jadi, Anda memerlukan minimal 3 harddisk.

1. Jalankan FreeNAS sebagai Live-CD, setelah sampai pada pilihan konfigurasi (Setup) seperti di bahasan Konfigurasi Awal, ketikkan pilihan nomor 9, lalu tekan Enter.

2. Selanjutnya, arahkan ke pilihan Istall 'Embedded' OS on HDD/Flash/USB". Sorot tombol OK dan tekan Enter.

3. Arahkan ke media letak asal file FreeNAS, yaitu dalam CD-ROM yang dikenal dengan label cd0. Sorot tombol OK dan tekan Enter.

4. Pilih media tempat FreeNAS akan diinstal. Pilihlah USB flashdisk yang dikenal dengan label da0 atau harddisk yang dikenali sebagai ad0. Jangan pilih harddisk yang akan dirangkai dalam RAID dan dijadikan tempat menyimpan data di jaringan. Sorot tombol OK dan tekan Enter.

5. Setelah penginstalan selesai, restart komputer dan ubah dahulu prioritas booting dalam BIOS ke media yang digunakan untuk menginstal FreeNAS. Simpan konfigurasi booting dan keluar dari BIOS. Setelah komputer restart, booting akan dilakukan dari media instal FreeNAS yang baru (USB flasdisk, CF card, atau harddisk).

Selamat menciptakan dan menikmati server file Anda sendiri bersama Si Setan Merah. (Vincent Bayu Tapa Brata)

IP Camera: Bukan Sekadar Kamera Pengintai




Jaman dulu, banyak orang yang memilih Closed-circuit Televison (CCTV) sebagai piranti utama saat ingin memantau ruang. Meskipun saat ini masih banyak yang menggunakannya, teknologi CCTV ternyata boleh dibilang sudah uzur. Penggantinya, tentu saja perangkat kamera pantau yang lebih canggih dan punya cara kerja yang sama sekali berbeda. Mau tau siapa saja mereka dan bisa difungsikan sebagai apa, simak terus artikel ini.

Jika ditugasi memilih perangkat pemantau ruangan dan diberi 3 pilihan antara CCTV, Web Camera (Webcam), dan IP Camera (Internet camera), mana yang kira-kira Anda pilih? Bila pertimbangannya adalah biaya, bisa jadi CCTV merupakan pilihan utama. Ya, piranti satu ini memang paling populer karena dari sisi investasi membutuhkan biaya yang relatif rendah. Betapa tidak, CCTV hanya membutuhkan kabel dan pesawat televisi biasa untuk bisa beroperasi. Mungkin tambahan perekam video, jika pengguna ingin menyimpan situasi ruang yang ingin diawasi.

Tetapi lain ceritanya jika yang dibicarakan adalah masalah investasi jangka panjang, keandalan, dan fleksibilitas. Ketiganya hampir tidak dimiliki oleh perangkat CCTV standar, tetapi merupakan kelebihan yang dimiliki Webcam dan IP Camera. Masalahnya, apakah mungkin sebuah Webcam digunakan di ruang terbuka sebagai perangkat pengawas yang harus beroperasi 24 jam?

Nah, jika sudah begitu, pilihan terakhir tentu saja jatuh ke IP Camera.Investasi awal di sisi biaya memang lebih tinggi dibanding CCTV atau Webcam. Tetapi jika yang dicari investasi jangka panjang serta teknologi yang bisa digunakan sampai 10 tahun ke depan, maka IP Camera adalah jawabannya.

Supaya Anda bisa ikut merasakan kehebatan IP Camera, di artikel ini kami tunjukkan bagaimana IP Camera bisa digunakan untuk memantau aktivitas melalui perangkat mobile semisal ponsel atau PDA lewat jaringan 3G atau 3,5G. Selain itu, dengan IP Camera, Anda tidak hanya bisa sekadar memantau ruang atau wilayah, tetapi bisa juga membuat "stasiun" televisi live yang bisa dilihat oleh keluarga atau kerabat di seluruh belahan dunia.

Memfungsikan IP Camera Sebagai Remote Surveillance

Sesuai fungsinya, IP Camera memang seharusnya digunakan untuk melakukan pemantauan terhadap area atau ruang tertentu. Meskipun demikian, bukan berarti Anda harus selalu berada di tempat yang sama ketika sedang memantau. Beberapa IP camera sudah dibekali fitur khusus yang memungkinkan penggunanya melihat tampilan video tidak lagi di PC melainkan di perangkat mobile seperti ponsel, smartphone, atau PDA.

Nah, kami akan menunjukkan bagaimana membuat sendiri sistem remote surveillance dari kamera IP. Sebagai contoh, kami mengunakan kamera D-Link DCS-3420 yang disambungkan ke jaringan kabel dengan akses Internet melalui jalur Telkom Speedy. Kamera ini sebenarnya memiliki fasilitas streaming Internet. Tetapi kami ingin menunjukkan kepada Anda bagaimana membuat sebuah "server" streaming menggunakan jenis kamera apapun, termasuk Webcam atau CCTV. Server ini nantinya bisa diakses melalui internet menggunakan browser di PC, ponsel, smartphone, atau PDA. Tentu saja koneksi Internet yang mumpuni dibutuhkan di sini. Jika ingin melihat hasil broadcast menggunakan perangakat mobile, ada baiknya Anda memilih koneksi 3G atau 3,5G.

Langkah konfigurasi

Artikel ini mengasumsikan Anda telah berhasil melakukan konfigurasi awal dari IP camera atau Webcam. Dalam hal ini kamera sudah siap atau bisa menampilkan gambar secara lokal di PC, sebut saja PC "A". Nah, PC "A" inilah yang akan kami jadikan server streaming menggunakan aplikasi WebCam XP 5 yang bisa diunduh di www.webcamxp.com. Menariknya, aplikasi ini bisa digunakan dengan cuma-cuma untuk pemakaian perorangan (broadcast 1 kamera).

1. Sambungkan Kamera Setelah berhasil diinstal, Anda akan melihat jendela utama WebCam XP terbagi seperti gambar di bawah. Untuk menyambungkan aplikasi ke IP Camera, klik kanan di area video source WebCam XP dan pilih Network Cameras -> Connect.

2. Pilih Kamera Selanjutnya WebCam XP akan membuka jendela Wizard, pilih kamera sesuai seri dan merek yang tersedia. Kebetulan, D-Link DCS-3420 kami cocok dengan pilihan kamera Vivotek seri 2000. Anda pun bisa mencoba sendiri dari merek - merek yang tersedia, jika seri kamera yang dicari tidak tersedia dalam pilihan.

3. Masukkan Konfigurasi Jaringan Jika sudah, jendela Wizard akan melanjutkan ke langkah berikutnya, yakni konfigurasi jaringan kamera. Masukkan semua informasi dari konfigurasi jaringan kamera Anda di sini. Tentukan juga resolusi video yang akan dibroadcast dan frame rate-nya.

4. Uji Konfigurasi Untuk memastikan settingan terekam dengan benar, coba klik tombol "Test" . Jika konfigurasi dilakukan dengan benar, maka Anda akan melihat jendela di bawah ini. Selanjutnya klik Ok di jendela Wizard untuk mulai menyambugkan kamera

5. Konfigurasi Broadcast Berikutnya adalah melakukan konfigurasi untuk server broadcast kamera Anda. Untuk melakukannya klik tombol "Web/Broadcast" di jendela utama (bagian kiri) WebCam XP.

6. Matikan Layanan Broadcast Di sini kita akan mengubah IP listening dari WebCam XP agar mengarah ke alamat IP lokal PC. Sebelumnya matikan dulu layanan broadcast dengan mengklik tombol "Disable" yang ada di kanan atas layar.

7. Ubah IP Listening Kemudian barulah Anda bisa mengubah alamat IP listening sesuai keinginan. Di sini kami menggunakan alamat 192.168.0.2 dan port 8080.

8. Aktifkan Layanan Broadcast Setelah itu kembali aktifkan layanan broadcast dengan mengklik tombol "Activate". Sampai sini sebenarnya IP Camera sudah bisa dilihat di browser manapun dalam jaringan LAN dengan mengetikkan alamat IP dari PC lengkap dengan port-nya (contoh: http://192.168.0.2:8080).

Jika akses lokal saja belum cukup, Anda bisa saja mempublikasikan IP Camera yang Anda miliki ke Internet. Untuk itu Anda harus melakukan konfigurasi untuk melewatkan akses dengan menggunakan fasilitas port forwarding yang ada di router atau modem ADSL. Untuk melakukan hal ini sesuai dengan merek dan seri router yang Anda miliki, silahkan kunjungi http://portforward.com/routers.htm.

Menggunakan WebCam XP ini juga berarti memanfaatkan IP Camera Anda bukan cuma sebagai pengawas ruang, tetapi sebagai perangkat kamera yang bisa membroadcast "siaran" televisi digital menggunakan protokol mms milik Windows Media Player.

(Brama Setyadi)

Bikin Sentral Telepon Sendiri untuk VoIP, Yuk!





Tanpa harus melalui jaringan perusahaan komunikasi tertentu, kita dapat membangun sendiri infra struktur komunikasi suara dengan perantaraan internet. Sentral telepon atau PABX yang diperlukan dapat kita rakit dari PC tua sekelas prosesor Intel Pentium 4 generasi awal.

Lagi-lagi, kita akan kembali menggandeng Pinguin lucu, Linux untuk melaksanakan fungsi sebagai perangkat lunak server VoIP. Distro Linux bernama Briker IPPBX hasil karya putera negeri, yaitu Anton Raharja kita pilih mengigat konfigurasinya cukup mudah dan menggunakan antar muka (interface) grafis. Terimakasih dan salut kami ucapkan untuk Anton Raharja.

Briker IPPBX sampai dengan saat artikel ini ditulis telah mencapai rilis 2.0 dengan codename OWP (Onno W. Purbo). Sebelumnya, rilis 1.0 diberi sandi Azzelia (nama puteri Anton Raharja). Silakan kunjungi situs resmi Briker IPPBX di alamat www.briker.org dan download file ISO Briker IPPBX dari situs tersebut.

Membuat CD Installer Briker IPPBX

Sekilas, membuat server VoIP terdengar sebagai kerjaannya para geek. Tapi, dengan Briker IPPBX, dan mengikuti paparan kami, Anda akan merasakan betapa mudahnya pekerjaan ini. Briker IPPBX juga dibuat berbasis distro Linux Debian yang telah melahirkan distro Ubuntu dan Knoppix. Siapa tak kenal dengan Ubuntu yang terkenal sangat user friendly dan powerfull itu?

Setelah file ISO di-download, silakan bakar (burn) file ISO tersebut ke dalam CD. Tujuannya, agar dapat di-booting dari CDROM untuk proses instalasi Briker IPPBX ke dalam harddisk. Untuk membakar file ISO Briker IPPBX, Anda dapat menggunakan program Nero (Windows), K3B (Linux), atau Brasero (Linux Ubuntu 4.10) dan memilih opsi Burn Image to Disk.

Pengubahan Prioritas Booting Komputer

Segera, setelah proses burning ISO selesai, kita akan menginstal Briker IPPBX ke dalam harddsik. Perlu Anda perhatikan, bahwa Briker IPPBX akan langsung memformat bersih harddisk Anda. Oleh karena itu, jangan menginstal Briker IPPBX pada harddisk yang berisi partisi atau data-data penting Anda.

Sebelum memulai instalasi, ubah dahulu prioritas urutan booting komputer yang semula dari harddisk hda0 (ATA) atau sda0 (SATA) menjadi booting dari CDROM. Caranya, sesaat setelah komputer melakukan booting, tekanlah berkali-kali tombol Delete pada keyboard untuk masuk ke dalam konfigurasi BIOS (Basic Input-Output System). Tombol ini dapat berbeda-beda untuk masing-masing produsen motherboard komputer. Maka, kami sarankan untuk melihat kembali buku manual motherboard PC Anda.

Secara umum, konfigurasi prioritas urutan booting ada pada bagian Anvanced Settings atau tab Boot. Masuklah ke bagian tersebut, lalu ubahlah prioritas booting dari CDROM berada pada urutan pertama (First boot). Setelah itu, simpan konfigurasi ini dengan masuk ke bagian Exit dan pilih Exit and Save Settings.

Proses Instalasi Briker IPPBX

Tibalah saatnya kita menginstal Briker IPPBX ke dalam harddisk yang tidak berisi partisi atau data penting. Sekali lagi, kami mengingatkan hal ini, agar Anda tidak melakukan kesalahan fatal dan kehilangan aset data penting.

1. Masukkan CD berisi Briker IPPBX ke dalam CDROM, maka PC akan segera booting dari CDROM. Jika tampil pilihan boot, ketikkan “install” (tanpa tanda kutip) lalu tekan Enter.

2. Installer akan melakukan pengecekan terhadap kondisi CD installer Briker IPPBX.

3. Selanjutnya, modul-modul instalasi akan dimuat atau di-load.

4. Proses pembuatan partisi untuk sistem Briker IPPBX akan segera dilaksanakan, disusul dengan proses pemformatan partisi sistem tersebut.

5. Instalasi paket-paket aplikasi diawali dengan instalasi sistem dasar.

6. GRUBS (Grand Unified Bootloader) untuk manajemen proses booting Briker IPPBX akan diinstal.

7. Proses finalisasi instalasi akan menutup proses instalasi.

Konfigurasi Awal Sistem dan Jaringan

Setelah proses instalasi Briker IPPBX selesai, keluarkanlah CD installer Briker IPPBX dari CDROM. Pada pilihan booting, ketikkan “harddisk” (tanpa tanda kutip) untuk booting dari harddisk, lalu tekan tombol Enter.

Selama proses booting kita akan dapat melihat layanan (service) apa saja yang dijalankan dalam sistem Briker IPPBX kita. Setiap proses yang berhasil dilaksanakan ditandai dengan teks OK di bagian kanan layar.

1. Begitu sampai pada bagian untuk masuk ke dalam sistem (login), ketikkan “support” (tanpa tanda kutip) pada bagian User ID dan “Briker” (tanpa tanda kutip) pada bagian Password. Keduanya merupakan User ID dan password bawaan bagi administrator sistem Briker IPPBX. Ingat, prinsip case-senssitive (pembedaan antara huruf besar dan huruf kecil) berlaku dalam sistem Briker IPPBX yang berbasis Linux Debian. Jadi, mohon hati-hati dan cermat saat membuat atau mengisi User ID dan password. Ketika Anda mengetikkan password, karakter yang Anda ketikkan tidak akan ditampilkan. Hal ini bukan berarti layar atau sistem Anda yang rusak, melainkan semata-mata untuk alasan keamanan agar password Anda tidak bisa dilihat orang lain.

2. Jika Anda ingin meningkatkan keamanan dengan mengganti password administrator sistem Briker IPPBX, silakan ketikkan perintah passwd. Lalu, ketik password yang Anda inginkan. Sistem Linux akan menganalisis kekuatan password itu. Jika dinilai terlalu pendek, sistem akan meminta Anda memberikan password lain, minimal 6 karakter. Ketikkan lagi password sebagai konfirmasi, dan tekan Enter.

3. Server Briker IPPBX kita secara standar memiliki nomor IP 192.168.2.2. Hal ini belum tentu sesuai dengan jaringan lokal yang kita miliki. Untuk itu, kita perlu mengubahnya. Sebelumnya, jika Anda ingin melihat detail alamat server Briker IPPBX, silakan ketik perintah ifconfig.

4. Untuk mengubah pengalamatan server Briker IPPBX dalam jaringan lokal kita, ketik perintah nano /etc/network/interfaces. Kata “nano” berarti kita menggunakan editor teks nano untuk menyunting file konfigurasi jaringan. Selain nano, Anda juga dapat menggunakan editor teks vi atau mcedit. Setelah beres, simpan konfigurasi jaringan pada file tersebut dengan menekan kombinasi tombol Ctrl + O, disusul dengan menekan tombol Enter. Setelah itu, keluarlah dari editor teks nano dengan menekan tombol Ctrl + X.

Administrasi Sistem Briker IPPBX

Konfigurasi dasar pada sistem dan jaringan telah selesai. Kini, kita akan melakukan proses administrasi pada sentral telepon atau PBX server VoIP kita ini. Berpindahlah ke komputer lain yang terhubung ke server Briker IPPBX, kita akan melakukan administrasi akun (account) pengguna atau client lewat browser web.

1. Pada komputer tersebut, jalankan browser web, lalu ketikkan alamat nomor IP server Briker IPPBX dan tekan Enter. Anda akan diarahkan ke halaman login administrator. Pada bagian User name, ketik administrator, sedangkan pada bagian password isi dengan password administrator (root) Briker IPPBX Anda. Jika password administrator tidak Anda ganti, isi dengan Briker. Klik tombol Login.

2. Halaman selamat datang akan ditampilkan. Di dalamnya kita dapat menyimak detail tentang rilis sistem Briker IPPBX, para developernya, serta alamat kontaknya.

3. Langsung saja kita membuat beberapa nomor ekstensi untuk pengguna (client). Klik teks IPPBX Administration, lalu klik menu Extension. Pada pilihan Device, pilih Generic SIP Drive, lalu tekan tombol Submit.

4. Ada banyak sekali isian pada bagian Add SIP Extension, namun yang bersifat wajib dan mendasar (mandatory) hanyalah bagian User Extension dan Secret. Bagian Display Name dapat Anda isi dengan identitas singkat pengguna. Untuk mencegah kebingungan, User Extension berperan sebagai User ID atau User name bagi pengguna dalam sistem Briker IPPBX. Sementara itu, Secret berperan sebagai password pengguna. Jika sudah selesai, tekan tombol Submit.

5. Terapkan pengaturan ekstensi yang baru kita lakukan dengan menekan tombol Apply Configuration Changes.

6. Akan ditampilkan kotak dialog Apply Configuration Changes. Arahkan pilihan ke Continue with Reload, lalu tekan tombol Enter.

7. Proses reload akan dilaksanakan. Tunggu sampai selesai.

8. Ekstensi-ekstensi yang sudah kita buat, akan terlihat lengkap dengan Display name-nya pada bagian kanan-atas layar administrasi.

Konfigurasi Softphone pada PC Client

Nah, bagian yang semula kita pikir sulit (dan ternyata tidak terlalu sulit) telah kita lalui. Kini, kita pasang “pesawat telepon” pada komputer client. Pesawat telepon ini berupa software yang sering disebut sebagai softphone. Pasang juga headphone yang dilengkapi dengan mikrofon pada komputer client untuk berkomunikasi lewat softphone.

Ada beragam softphone gratis. Bagi pengguna sistem operasi Windows, SJ-Phone keluaran SJ Labs dapat digunakan. Sementara itu, untuk pengguna Linux, Ekiga dapat dipilih sebagai alternatif. Dalam praktek kali ini, kami mengandaikan PC client menggunakan sistem operasi Windows, sehingga SJ Phone dipilih sebagai softphone.

1. Setelah diinstal, jalankan SJ Phone. Tekan tombol Options yang berupa ikon kunci pas dan palu.

2. Kotak dialog Options akan ditampilkan. Bukalah tab Profiles. Arahkan pilihan (sorot) pilihan PC to PC (SIP), lalu tekan tombol New.

3. Kotak dialog Create New Profile akan ditampilkan. Pada bagian Profile name, isi dengan nomor ekstensi pengguna yang akan berkomunikasi lewat komputer client ini. Pada bagian Profile Type, arahkan ke pilihan Call trough SIP Proxy. Tekan tombol OK.

4. Kotak dialog Profile Options akan ditampilkan. Bukalah tab SIP Proxy. Pada bagian Proxy Domain, isi dengan nomor IP server Briker IPPBX kita. Pada bagian Port, isi dengan port standar yang digunakan untuk komunikasi VoIP, yaitu 5060. Beri tanda check (centang) pada bagian Register with Proxy dan pada bagian Unregister contact address only. Setelah itu, tekan tombol OK.

5. Kotak dialog Service akan ditampilkan. Pada bagian Account, isi dengan nomor ekstensi pengguna yang hendak berkomunikasi dengan komputer client ini. Pada bagian Password, isi dengan Secret dari ekstensi pengguna tersebut. Jika sudah, tekan tombol OK.

6. Kotak dialog Options akan kembali ditampilkan. Di dalamnya sekarang kita lihat nomor ekstensi pengguna (client) yang menggunakan PC tersebut telah terdaftar dan statusnya adalah In Use. Tekan tombol OK.

7. Lihatlah pada bagian atas softphone SJ-Phone. Sekarang nomor ekstensi pengguna telah terdaftar, aktif, dan terhubung ke server Briker IPPBX kita.

8. Pengguna (client) dapat mengecek client lain yang sedang online dengan menekan tombol Neigborhood di bagian bawah softphone SJ Phone.

9. Ketika ada panggilan masuk dari client lain, maka akan tampil kotak dialog konfirmasi untuk menerima atau menolak panggilan tersebut. Tekan tombol Accept untuk menerima panggilan, lalu mulailah bercakap-cakap lewat headphone dan mikrofonnya.

10. Sebaliknya, jika Anda ingin menelepon client lain, ketik saja nomor ekstensinya, lalu tekan tombol Dial.

Evo RAN: Jaringan Radio dari Ericsson



Sebuah solusi bernama Evo RAN (Radio Access Network) diperkenalkan oleh Sony Ericsson. Solusi ini memungkinkan para operator untuk menjalankan jaringan GSM, WCDMA dan LTE hanya melalui sebuah jaringan tunggal. Di dalam solusi ini juga termasuk sebuah perangkat pengendali jaringan terbaru, Evo Controller 8000.

Langkah Ericsson yang membenamkan Evo RAN pastinya membawa dampak positif. Dengan demikian, Ericsson telah mengembangkan sebuah solusi jaringan komunikasi bergerak yang memungkinkan para operator untuk meminimalkan biaya operasional jaringan radio akses. Evo RAN mengkombinasikan GSM/EDGE, WCDMA/HSPA, LTE, IP-based transport systems dan Operational Support System umum ke dalam jaringan radio akses yang teroptimilisasi.

Platform RBS 6000 Ericsson yang telah diluncurkan tahun lalu, menjadi sebuah komponen kunci dalam Evo RAN. Itu memungkinkan praktek pembangunan jaringan secara umum terintegrasi dengan radio, sumber tenaga untuk BTS, transportasi untuk O&M (Operational & Maintenance). Solusi energi efisiensi ini merupakan BTS multi-standar terkecil di dalam pasar, mendukung LTE pada model FDD (Frequency Division Duplex) dan TDD (Time Division Duplex), demikian pula pada GSM/EDGE dan WCDMA/HSPA dalam sebuah perangkat tunggal.

Evo RAN juga tersedia pada BTS GSM dan WCDMA yang berbasis seri RBS Ericsson 2000/3000. Ini telah menggarisbawahi fokus kekuatan Ericsson pada produk-produk yang terbukti untuk masa depan. Misalnya saja pada seri BTS yang dibangun pada tahun 2001 yang juga dapat ditingkatkan untuk mendukung teknologi LTE.

(Indah PM)

Generasi Memori Masa Depan



Toshiba telah mengembangkan memori jenis FeRAM (Ferroelectric RAM) dengan kapasitas yang lebih tinggi. Jagoan baru Toshiba ini dapat mengirim dan menerima data pada kecepatan delapan kali lebih gesit dari prototipe sebelumnya.

FeRAM merupakan memori jenis baru yang menggabungkan kecepatan chip DRAM (yang biasanya diusung sebagai memori utama komputer), dan kemampuan untuk menyimpan data saat daya dimatikan (layaknya chip memori flash yang biasa dipakai pada ponsel, kamera digital atau perangkat gadget lainnya). FeRAM telah dikembangkan selama bertahun-tahun tapi belum pernah diproduksi secara massal.

Chip anyar ini memiliki kapasitas 16 MB dan memiliki kecepatan membaca atau menulis data dengan kecepatan 1,6 GB/detik. Sedikit ditarik ke belakang, Toshiba terakhir kali merinci FeRAM-nya pada tahun 2006, saat berhasil menciptakan FeRAM berkapasitas 4 MB yang mampu mencapai kecepatan transfer data sebesar 200 MB/detik.

Chip ini merupakan purwarupa (prototipe) chip versi paling "gres" dari Toshiba, yang kemungkinan besar akan menjadi produk yang diproduksi secara massal. Namun, Toshiba sendiri belum memiliki rencana konkrit untuk memproduksi chip FeRAM secara massal, mengingat perusahaan tersebut mengakui kalau harga masih menjadi kendala terbesar saat ini.

Teknologi FeRAM ini antara lain bisa diterapkan sebagai memori cache terintegrasi dalam bidang semikonduktor. Meskipun mendukung kemampuan baca dan menulis yang cepat, dan tetap menyimpan data saat tidak dialiri listrik, daya tampung total chip ini pada kapasitas 16 MB ternyata lebih rendah ketimbang chip memori flash konvensional.

(Indah PM/cnet)

LG Akan Sisipkan Chip Intel Moorestown



Kolaborasi dua produsen besar kembali terjadi,. Kali ini antara LG dan Intel. Beberapa waktu lalu Intel telah mengumumkan bahwa LG Elektronics akan membenamkan salah satu besutan Intel ke dalam perangkat bergerak (mobile) milik LG. Chip yang akan ditanamkan ke dalam perangkat LG tersebut sengaja dirancang untuk mendukung akses Internet via Personal Digital Assistant (PDA).

LG akan menggunakan chip hemat daya terintegrasi dari platform Intel Moorestown dalam Mobile Internet Device-nya (MID) mendatang. MID sendiri dapat digolongkan sebagai perangkat telekomunikasi genggam dan perangkat Internet yang merupakan hasil perkawinan antara sub-notebook dan ponsel pintar.

Desain ini merupakan langkah besar yang diambil Intel demi menguasai "lahan basah" dalam pasar perangkat bergerak, sekaligus juga untuk menggeser rival terberatnya, ARM. Sekedar informasi, LG merupakan vendor ponsel terbesar ketiga di dunia pada tahun 2008. Pabrikan tersebut mengirimkan ponsel sebanyak 100,7 juta unit, berada di belakang Nokia dan Samsung yang sukses mengirimkan sebanyak 468,4 juta dan 196,7 juta ponsel.

Tahun lalu, Intel memperkenalkan prosesor Atom yang berkodekan Menlow (untuk MID)., yang sayangnya boros dalam pemakaian daya batere. Di pundak Intel Moorestown inilah, Intel menaruh harapan dapat memperbaiki kekurangan Menlow. Intel mengatakan, Moorestown ini akan mengkonsumsi daya sepuluh kali lebih sedikit (saat berada dalam modus siaga/standby). Platform Moorestown terdiri dari sistem-on-chip yang dibangun di sekitar inti prosesor Atom dan chipset Langwell.

Selain dengan Intel, LG juga bekerja dengan ponsel Ericsson guna membawa jaringan 3G dengan modus MID yang telah direncanakan. LG sendiri belum bersedia memberi informasi tentang kapan tepatnya produk yang akan membenamkan Intel Moorestown itu akan dirilis. Namun demikian, ada sedikit bocoran, yaitu chip Intel Moorestown baru akan dilansir pada tahun 2010 mendatang. Pengumuman ini nantinya diharapkan dilakukan pada acara GSMA Mobile World Congress yang berlangsung di Barcelona.

(Indah PM)